Pengikut

Jumat, 22 Agustus 2014

Perjamuan

Dimanakah engkau saat ini kekasih hatiku? Apakah engkau ditaman, menyirami bunga-bunga yang mencintaimu bagai seorang bayi yang mendambakan payudara ibunya? Atau, apakah engkau berada dikamarmu, tempat kau membangun sebuah altar demi kesucian dan untuk mempersembahkan jiwaku dan nafas terakhirku? Ataukah engkau berada diantara buku-bukumu, menambah pengetahuanmu tentang kebijaksanaan manusia, walau kau tidak perlu mencari kebijaksanaan bahkan kebijaksanaan berasal dari para dewa?
Dimanakah engkau pendamping jiwaku? Apakah engkau ada disebuah kuil dan berdoa untukku? Ataukah engkau berada dipadang rumput, menyatu dengan alam, sumber dari keajaiban dan mimpi-mimpi? Atau apakah engkau berada didalam gubuk orang-orang miskin, menghibur mereka yang patah hati dengan kegembiraan jiwamu dan mengisi tangannya dengan amal kasihmu?
Engkau ada dimana-mana, karena engkau berasal dari roh Tuhan. Engkau ada kapan saja karena engkau lebih kuat dari takdir!
Ingatkah engkau malam itu saat kita bersama, dimahkotai cahaya jiwamu, dan bidadari cinta mengelilingi kita sambil menyanyikan kidung gereja tentang perbuatan-perbuatan jiwa? Ingatkah engkau hari itu disaat kita duduk bersama dibawah bayang-bayang cabang pepohonan ? Mereka menyelimuti kita seperti sebuah tenda yang melindungi kita dari manusia, bagai tulang rusuk yang menyembunyikan rahasia-rahasia hati yang suci. Ingatkah engkau jalan dan bukit yang kita daki bersama, jari jemarimu melilit di jemariku, bagai kembaran rambutmu? Kepala kita saling bersandar seolah-olah kita akan melindungi diri kita sendiri.
Ingatkah engkau saat kuucapkan selamat berpisah kepadamu?
Engkau memelukku dan kemudian menciumku. Engkau memberikan kecupan Maria dan aku mengetahui bahwa bibir yang menyatu itu melahirkan rahasia-rahasia Ilahi yang tidak diketahui oleh sang lidah. Ciuman adalah awal dari nafas yang terlipat dua, menceritakan dongeng tentang Tuhan yang menghembuskan nafas kedalam tanah dan kemudian terciptalah manusia. Helaan nafas berlangsung dihadapan kita kepada dunia jiwa-jiwa, mengungkapkan keagungan kedua jiwa kita. Ini akan terus terjadi sampai kita disatukan olehNya selamanya.
Kemudian engkau menciumku dan menciumku lagi, dan engkau berkata sambil menangis,
" Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui, mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada ditangan cinta, terus hidup sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan. Pergilah, kekasihku, kehidupan telah memerintahkanmu, jadi kau harus menurutinya. Sungguh anggun menuruti cawan meluap-luap untuk diminum dari air mancur kebahagiaan . Sebab bagiku, cintamu akan menjadi pengantin pria yang setia dan kenanganmu akan menjadi pesta perkawinan panjang dan penuh berkah"
KG

"Dia telah menuliskan sejarah kita sejak seratus tahun yang lalu dan aku tak perlu lagi mengabarkannya padamu kekasihku"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.