Udara
pagi di kaki Kampung Lalang kali ini berbeda dengan kemarin. Lebih menyengat
dan sedikit mendung. Apalagi dipenghujung tahun seperti ini, selalu dilanda badai. Angin super kencang dari arah barat daya akan menyapu bersih
semua benda yang ada di sini. Termasuk warung-warung kecil yang jaraknya
puluhan meter dari jalan raya. Kios lukisan milik ayah sudah pasti porak
poranda. Sangat berantakan dan kami selalu kerepotan merapikannya kembali
Dulu, kalau angin kencang datang, yang
rusak tidak seberapa karena pohon pelindung masih banyak. Dinding dan jendela kios
juga tidak ada yang terbongkar. Kaca nako tidak ada yang pecah. Tapi sejak
sepuluh tahun terakhir, bulan Desember menjadi bulan maut, bulan mematikan. Angin
kuat super dahsyat yang dibawanya sungguh menghancurkan dan membinasakan. Tunggul-tunggul
kayu puspa (Schima wallichii), pelawan
(Tristaniopsis merguensis) dan teruntum
(Lumnitzera
racemosa) kini tersimpuh luluh. Mati. Tak bisa menahan angin. Pohon meranti
(Shorea roxburghii) dan ulin (Eusideroxylon zwageri)
hanya tinggal nama. Hutan kampungku botak! Gundul! Padahal dulunya di juluki Negeri
bukan Main oleh orang Belanda karena hasil alamnya yang luar biasa.
Ribuan batang perancah dari berbagai
jenis melenggang indah ke dermaga lain dari
negeri ini. Ratusan kubik kayu mengisi lambung-lambung pinisi yang berlayar
menuju kota-kota besar. Penuh, sesak memenuhi geladak. Ratusan ton timah
berasal dari negeri ini. Jutaan kubik pasir, juga dari sini. Tapi kini negeriku
bukan lagi negeri yang kaya. Hasil alamnya sudah habis terkikis. Timah, pasir,
lada, habis. Pun hutan yang tak lagi lebat dan hijau. Tandus!
Bukit-bukit disini tak ubahnya caping tua
di atas nampan pasir raksasa. Tampak buruk dan tidak enak dipandang mata. Gersang!
Tandus karena di tandusi. Gundul karena di gunduli dengan sengaja. Terlebih
lagi bulan depan ada pemilihan anggota legislatif. Ini berarti hutan akan
kembali di jarah. Dibantai. Orang-orang partai berlomba-lomba menggunduli
pepohonan, menelanjangi hutan dengan suka cita di kampung-kampung, di pinggiran
kota, dipantai, dimana saja asalkan dapat dipakai untuk tiang penyangga
spanduk. Meski tersedia di depot, tak jarang mereka menebang sendiri untuk
meminimalisir pengeluaran.
Pohon-pohon muda, di babat. Tunas-tunas
baru di ranting pepohonan, di tebas bersama gelak tawa. Miris! Kini dada mereka
terbusung kayu-kayu perancah. Puluhan nama di sanjung tinggi tumpukan dedaunan
hijau. Kampungku berpesta besar. Meriah. Setiap ruang kosong berhias spanduk pelangi
dan stiker visi misi mulai dari yang paling kecil hingga yang sangat besar. Dengan
alasan murah meriah, tanpa sadar, mereka telah merusak paru-paru dunia. Ah,
bukan. Bukan paru-paru dunia. Tapi paru-paru kampung.
*
Ayah
baru selesai mandi ketika sebuah mobil dobel kabin menikung tajam di depan
kios. Gerigi bannya menancap jelas di
pasir setengah lumpur ini. Dua pria muda duduk di bak belakang sambil berpegangan
erat, meringis. Mungkin takut jatuh.
“Gimana,
Leo? Kau sudah siap?” teriak seorang lelaki brewok bertubuh kurus dari dalam mobil. Ayah memang selalu dihubungi
orang-orang partai untuk urusan kayu dan keluar masuk hutan. Maklum, dulu ayah
lama bekerja di tambang rakyat di hutan Cangkok.
“Oke, let’s go!” kata ayah penuh semangat
sambil mengancingkan jaket kulitnya dan tergesa naik ke mobil.
“Ayah
pergi dulu, Mir. Mungkin pulangnya malam. Soalnya spanduk harus segera di pasang di puluhan titik hari ini.”
“Ke
hutan lagi? Menebang lagi?” rasa kesal membuat nada bicaraku tinggi. Ingin
rasanya ku bocorkan keempat ban mobil mahal itu agar mereka batal masuk hutan. Ayah
hanya menoleh sepintas padaku dan langsung membuang mukanya ke depan. Dingin.
“Anakmu,
payah. Kalau dia terus menghalangi, kau tidak dapat uang!” kata si brewok berbisik
pada ayah. Kumisnya naik turun seiring hembusan keras dari rokok kreteknya. Dasar!
Dia pikir aku tidak mendengar hasutan jahatnya.
“Hanya
sedikit, kok. Tidak banyak. Percayalah, Mir!”
Kata-kata
ayah benar-benar membuatku marah. Sedikit? Tidak banyak? Apakah ada yang pernah
menghitung? Apakah mereka pernah menanam kembali pohon-pohon yang sudah mereka
tebang? Miris. Dadaku tiba-tiba sesak. Terdengar jelas kicauan burung-burung
kecil, gaduh, riuh memecah sunyi . Terbayang
tupai-tupai yang berlari ketakutan mencari tempat berlindung, seperti tontonan
sirkus kelas dunia. Mendebarkan. Seperti dihantam godam ratusan kilo, kepalaku
pusing. Berputar-putar. Angka-angka fantastis pun menari erotis di pelupuk mata.
Pada
November kali ini, ada 150 calon anggota legislatif yang maju dalam pesta
demokrasi yang diusung oleh 15 partai untuk 30 desa. Setiap partai mengajukan 10
calon yang akan duduk sebagai wakil rakyat di DPRD. Untuk satu baliho
membutuhkan sepuluh batang perancah, satu spanduk, tiga batang. Satu bendera,
satu batang dan satu buah umbul-umbul sebanyak satu batang.
Kayu
perancah yang dihabiskan oleh partai untuk baliho, spanduk, bendera dan umbul
berjumlah 10.800 batang. Angka ini jumlah dari baliho 4.500 batang (10 batang x
15 partai x 30 desa), spanduk 1.350 batang (3 batang x 15 partai x 30 desa),
bendera 450 batang (1 batang x 15 partai x 30 desa) dan umbul-umbul 4.500 ( 10
buah x 15 partai x 30 desa). Sedangkan untuk para caleg, kayu yang dipakai
berjumlah 2.550 batang yang berasal dari baliho 1.500 batang ( 10 batang x 150
caleg ), spanduk 450 batang (3 batang x 150 caleg), bendera 300 batang (1
batang x 2 buah x 150 caleg) dan umbul-umbul 300 batang (1 batang x 2 bh x 150
caleg). Total kayu yang terpakai adalah 13.350 batang.
Wow,
inikah yang sedikit? Inikah yang namanya tidak banyak? Dalam kurun waktu 5
tahun, 13.350 batang kayu di tebang, dibinasakan secara “legal”. Ini belum
seberapa. Angka yang di dapat hanya dari pemilihan caleg. Bagaimana jika ditambah
dengan pemilihan bupati, gubernur bahkan sampai pemilihan presiden yang tentu
saja memiliki jadwal yang berdekatan. Bahkan, yang lebih gila dan mencengangkan
adalah pemilihan-pemilihan tersebut berada dalam kurun waktu 5 tahun itu. Kapankah
pembantaian ini berakhir? Bilakah kekejaman terhadap alam ini berhenti? Apakah
yang terjadi dengan hutan dan pantai kita jika ini dibiarkan terus menerus?
Gersang dan tandus, ya! Langganan bencana, ya. Padahal setiap pohon membutuhkan
waktu bertahun-tahun untuk tumbuh sempurna. Belum sempat besar, dibabat. Belum
sempat tinggi, ditebang. Lalu, hutan yang menjadi bagian paru-paru bumi,
paru-paru kehidupan dunia, hutan yang mana? Hutan maya?
Setelah
pesta berakhir, rongsokan kayu tak berguna ini melapuk buruk di mamah waktu. Sebagian
masyarakat meminta untuk dijadikan kayu bakar. Selebihnya terbuang sia-sia. Tak
bisa dijadikan pagar karena pendek, tak dapat digunakan sebagai bahan bangunan sebab
sudah terpotong-potong.
Kemudian
bencana datang tanpa memberi salam. Banjir bandang menyapu rata material yang
menghadang. Yang mati, banyak. Manusia, hewan ternak dan tanaman tumpas. Rumah,
sekolah, kantor dan tempat ibadah rusak parah. Semua mengalami kerugian yang
sangat besar.
Diskusi
saling menyalahkan pun menjamur di radio, di televisi, di warung kopi, di
halte-halte, di kantor-kantor pemerintah, di lorong-lorong jembatan hingga di
komplek perumahan elit. Ketika bencana sudah dialami, saat musibah sudah di
telapak tangan, semua langsung sepakat jika penggundulan hutan harus
dihentikan. Lho, aksi demonstrasi
kemarin itu panggung komedikah? Cuma lucu-lucuan? Protes keras di radio apakah
hanya seperti lagu lawas yang membosankan? Spanduk-spanduk itu, apakah serupa
surat cinta anak pubertas? Tak bermakna? Tak berarti?
*
Jam
sudah menunjuk ke angka sembilan dan ayah belum pulang. Was-was pun menjalari lekuk alam pikirku. Jangan-jangan
ayah mabuk lagi bersama si gendut itu. Pastilah ayah berjudi di rumah Ko Atiam.
Ah, semoga saja tidak. Baru saja aku menutup jendela depan yang kacanya pecah
dihantam badai kemarin, bunyi nyaring klakson terdengar dua kali.
“Terimakasih,
Bill. Besok kita lanjut lagi.” kata ayah sambil tersenyum dan menutup pintu
mobil.
“Sama-sama,
Leo.”
Brummm.
Brummmm. Deru mesin perlahan menghilang tersapu angin. Aku yang memang sudah
mengantuk, memilih diam ketika ayah memintaku membuatkan kopi untuknya. Dia
terlihat lelah.
“Jangan
manis.” katanya pendek.
“Diganti
besi saja atau pakai tali. Hutan tidak rusak, alam terjaga.” kataku menimpali.
“Besi
mahal!”
“Lho.
Bukankah yang mencalonkan diri adalah orang berduit?” balasku sengit.
“Tidak
semua berduit. Sebagian besar malah ngutang
sana-sini.” kata ayah.
“Aku
tidak perduli.Yang aku tahu, jangan pakai kayu perancah. Jika anggaran
terbatas, ya secukupnya. Lagian, rakyat lebih mengenal mereka dari karya. Udah
pernah berbuat apa. Kalau mau dipilih, ya harus sadar diri. Kita tidak harus
menunggu jadi orang besar agar bisa melakukan sesuatu yang besar. Jangan hanya
ketika ingin mencalonkan diri saja baru muncul. Dasar aneh!”
“Entahlah…”
Kopi
yang masih setengah gelas, diminumnya cepat dan bangkit menuju kamar mandi. Braakk.
Pintu tertutup rapat. Obrolan selesai.
Jawaban
singkat ayah semakin membuat dadaku bergemuruh, kesal. Aku tak bisa berbuat
apa-apa dimusim seperti ini, musim pencalonan. Teman-teman di komunitas peduli
lingkungan juga cuma koar-koar tanpa hasil di depan kantor DPRD. Hasilnya nol.
Tak digubris soal penggantian kayu perancah ke besi. Mereka bilang, ini omong
kosong. Tidak mungkin bisa dilakukan. Kalau besi, anggaran akan bertambah. Duit
negara yang keluar akan semakin banyak. Meski diterima untuk berdialog, tapi ujung-ujungnya, tidak ada
penyelesaian, tidak ada aksi nyata. Nol.
Arrrrgggghh…Apapun
itu, aku tak perduli. Ini pembantaian hutan. Penggundulan sadis yang dilegalkan
secara diam-diam. Hutan gundul adalah mata rantai bencana. Untuk memutusnya, seluruh
elemen masyarakat berhenti menebangi pohon. Semua harus paham bahwa pembabatan
dan penjarahan pohon merupakan perilaku buruk yang sangat merusak.
Menebang
hutan berarti siap menerima malapetaka besar, siap di lahap bencana. Bukankah
sudah banyak musibah yang terjadi karena hutan gundul? Kita selalu mengalami bencana
rutin disebabkan pengrusakan hutan besar-besaran. Meski sering di bilang
“sedikit”, tetap saja memiliki kontribusi terhadap bencana alam.
Para
pemangku kekuasaan, hendaklah membuat undang-undang atau aturan tentang
larangan dan sanksi penggunaan kayu perancah dari jenis apapun untuk spanduk/publikasi
dalam pemilihan umum dan untuk kegiatan apapun. Titik. Dengan begitu, hutan
terjaga, hutan resapan air ada. Bencana banjir dan tanah longsor akan
berkurang. Jika tidak, bersiaplah di dera bencana sepanjang tahun.
*
Ayah
masih tidur ketika telepon selulernya bergetar keras diatas meja. Bergegas aku
mengangkat. Sebuah pesan masuk dari om Billy tertulis, “Leo, ke kantor, ya. Udah
cair.”
Tanganku
lincah menghapus pesan. Telepon kumatikan. Beeeeep.
Bunyinya terdengar pelan. Biar saja ayah tidak datang mengambil uangnya. Aku
masih kesal. Aku masih marah karena
pesta meriah pengundang bencana ini akan terus kita adakan entah sampai
kapan.
Suatu
hari nanti kita akan sampai di masa ketika pohon tidak ada lagi yang bisa
ditebang. Suhu udara yang tinggi bisa untuk menggoreng telur di jalan-jalan kota.
Burung-burung yang tersisa mengalami autis berat. Berjalan sendiri, asyik
sendiri, tak lagi bergerombol karena tak
ada kawan, tak ada sarang untuk berkembang biak. Anak-anak kita, memiliki
kebiasaan baru, bermain dengan dada telanjang karena tak tahan panas. Mereka
tidak akan mengenal hutan, tidak mengenal kayu-kayuan Indonesia. Kelak, hutan
menjadi kata yang asing bagi siapapun, termasuk aku.
-o0o-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.